Senin, 24 Agustus 2009

Bagaimana mengetahui lewat hati ?

Bagaimana mengetahui lewat hati ?
Filusuf Ilahi Mulla Shadra ra. berkata, "Sesungguhnya ruh manusia jika lepas dari badan dan berhijrah menuju Tuhannya untuk menyaksikan tanda-tanda-Nya yang sangat besar, dan juga ruh itu bersih dari kamaksiatan-kemaksiatan, syahwat dan ketarkaitan, maka akan tampak padanya cahaya makrifat dan keimanan kepada Allah dan malakut-Nya yang sangat tinggi. Cahaya itu jika menguat dan mensubstansi, maka ia menjadi substansi yang qudsi, yang dalam istilah hikmah teoritis oleh
para ahli hikmat disebut dengan akal efektif dan dalam istilah syariat kenabian disebut ruh yang suci. Dengan cahaya akal yang kuat, maka terpancar di dalamnya -yakni ruh manusia yang suci- rahasiarahasia yang ada di bumi dan di langit dan akan tampak darinya hakikat-hakikat segala sesuatu sebagimana tampak dengan cahaya sensual mata (alhissi) gambaran-gambaran konsepsi dalam kekuatan mata jika tidak terhalang tabir. Tabir di sini -dalam pembahasan ini adalah pengaruh-pengaruh alam tabiat dan kesibukan-kesibukan dunia, karena hati dan ruh -sesuai dengan bentuk ciptaannya- mempunyai kelayakan untuk menerima cahaya hikmah dan iman jika tidak dihinggapi kegelapan yang merusaknya seperti kekufuran, atau tabir yang menghalanginya seperti kemaksiatan dan yang berkaitan dengannya " Kemudian beliau melanjutkan, "Jika jiwa berpaling dari ajakan-ajakan tabiat dan kegelapan-kegelapan hawa nafsu, dan menghadapkan dirinya kepada Alhaq dan alam malakut, maka jiwa itu akan berhubungan dengan kebahagiaan yang sangat tinggi dan akan tampak padanya rahasia alam malakut dan terpantul padanya kesucian (qudsi) Lahut ." (al-Asfar al-Arba'ah jilid 7 halaman 24-25).
Tentang kebenaran realita alam ruh dan hati ini, Ibnu Sina berkata, "Sesungguhnya para 'arifin mempunyai maqom-maqom dan derajat-derajat yang khusus untuk mereka. Mereka dalam kehidupan dunia di bawah yang lain. Seakan-akan mereka itu, padahal mereka berada dengan badan mereka, telah melepaskan dan meninggalkannya untuk alam qudsi. Mereka dapat menyaksikan hal-hal yang halus yang tidak dapat dibayangkan dan diterangkan dengan lisan. Kesenangan mereka dengan sesuatu yang tidak dapat dilihat mata dan didengar telinga. Orang yang tidak menyukainya akan mengingkarinya dan orang yang memahaminya akan membesarkannya." (al-Isyarat jilid 3 bagian kesembilan tentang makam-makam para 'arif halaman 363-364)
Kemudia beliau melanjutkan, "Jika sampai kepadamu berita bahwa seorang 'arif berbicara lebih dulu tentang hal yang gaib (atau yang akan terjadi), dengan berita yang menyenangkan atau peringatan, maka percayailah. Dan sekali-sekali anda keberatan untuk mempercayainya, karena apa yang dia beritakan mempunyai sebab-sebab yang jelas dalam pandangan-pandangan (aliran-aliran) tabi'at."

Pengetahuan tentang alam gaib yang dicapai manusia lewat hati jika berkenaan dengan pribadi seseorang saja disebut ilham atau isyraq, dan jika berkaitan dengan bimbingan umat manusia dan penyempurnaan jiwa mereka dengan syariat disebut wahyu. Islam dan Sumber-sumber Pengetahuan Dalam teks-teks Islam Qur'an dan Sunnah dijelaskan tentang sumber dan alat pengetahuan: Indra dan akal
Allah swt. berfirman, "Dan Allah yang telah mengeluarkan kalian dari perut ibu kalian, sementara kalian tidak mengetahui sesuatu pun, dan (lalu) Ia meciptakan untuk kalian pendengaran, penglihatan dan hati (atau akal) agar kalian bersyukur ". (QS. al-Nahl: 78). Islam tidak hanya menyebutkan pemberian Allah kepada manusia berupa indra, tetapi juga menganjurkan kita agar menggunakannya, misalnya dalam al-Qur'an Allah swt. berfirman, "Katakanlah, lihatlah segala yang ada di langit-langit dan di bumi." (QS. Yunus: 101 ). Dan ayat-ayat yang lainnya yang banyak sekali tentang anjuran untuk bertafakkur. Qur'an juga dalam membuktikan keberadaan Allah dengan pendekatan alam materi dan pendakatan akal yang murni seperti, "Seandainya di langit dan di bumi ada banyak tuhan selain Allah, niscaya keduanya akan hancur." (QS. al-Anbiya': 22). Ayat ini menggunakan pendekatan rasional yang biasa disebut dalam logika Aristotelian dengan silogisme hipotesis. Atau ayat lain yang berbunyi, "Allah memberi perumpamaan, seorang yang yang diperebutkan oleh banyak tuan dengan seorang yang menyerahkan dirinya kepada seorang saja, apakah keduanya sama ?" (QS.al-Zumar: 29) Allah swt berfirman, "Wahai orang-orang yang beriman bertakwalah kepada Allah, niscaya Ia akan memberikan kepada kalian furqon." (QS. al-Anfal: 29) Maksud ayat ini adalah bahwa Allah swt. akan memberikan cahaya yang dengannya mereka dapat membedakan antara yang haq denganyang batil. Atau ayat yang berbunyi, "Dan bertakwalah kepada Allah maka Ia akan mengajari kalian. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. al-Baqarah: 282). Dan ayat-ayat yang lainnya. Syarat dan Penghalang Pengetahuan. Meskipun berpengetahuan tidak bisa dipisahkan dari manusia, namun seringkali ada hal-hal yang mestinya diketahui oleh manusia, ternyata tidak diketahui olehnya. Oleh karena itu ada beberapa pra-syarat untuk memiliki pengetahuan,yaitu : Konsentrasi
Orang yang tidak mengkonsentasikan (memfokuskan) indra dan akal pikirannya pada benda-benda di luar, maka dia tidak akan mengetahui apa yang ada di sekitarnya. Akal yang sehat Orang yang akalnya tidak sehat tidak dapat berpikir dengan baik. Akal yang tidak sehat ini mungkin karena penyakit, cacat bawaan atau pendidikan yang tidak benar. Indra yang sehat Orang yang salah satu atau semua indranya cacat maka tidak mengetahui alam materi yang ada di sekitarnya.Jika syarat-syarat ini terpenuhi maka seseorang akan mendapatkan
pengetahuan lewat indra dan akal. Kemudian pengetahuan dapat dimiliki lewat hati. Pengetahuan ini akan diraih dengan syarat-syarat seperti,

membersihkan hati dari kemaksiatan, memfokuskan hati kepada alam yang lebih tinggi, mengosongkan hati dari fanatisme dan mengikuti aturan-aturan syar dan suluk. Seorang yang hatinya seperti itu akan terpantul di dalamnya cahaya Ilahi dan kesempurnaanNya. Ketika syarat-syarat itu tidak terpenuhi maka pengetahuan akan terhalang dari manusia. Secara spesifik ada beberapa sifat yang menjadi penghalang pengetahuan, seperti sombong, fanatisme, taqlid buta (tanpa dasar yang kuat), kepongahan karena ilmu, jiwa yang lemah (jiwa yang mudah dipengaruhi pribadi-pribadi besar) dan mencintai materi secara berlebihan.

Puasa Rhomadhon

kenapa kita harus berpuasa?.....
cobalah sesekali menyelam kedalam energi quanta. suasana bulan yang paling beda bagi yang menjalankan puasa. kenikmatan-kenikmatan yanga ada. cobalah

Minggu, 09 Agustus 2009

KoTBAH Metro Mementaskan ALJABAR Di PKM UNILA




Selamat Buat BRO Evit Setiawan Yang telah menunaikan tugasnya di medan pentas panggung teater pada malam minggu 08/08/2009, semoga karya-karya berikutnya menyeiring menjadi karya-karya yang pas dan pantastis dalam segala bentuk aliran dan bentuk visual antara teater dan seni lukis. acara diselenggarakan oleh KoTBAH Metro (Komunitas baik hati Metro) dan bekerjasama dengan berbagai piha. selamatttttttt

Senin, 08 Juni 2009

Myspace Layouts

Selasa, 13 Januari 2009

Minggu, 14 Desember 2008

Rahasia Kekuatan (Pikiran) Otak

Judul : Keajaiban Pikiran
Penulis : Harold Sherman
Penerjemah : Meilyan Hamsa
Penerbit : Rumpun - Yogyakarta
Cetakan I : November - 2007
Tebal : 188 halaman

Satu-satunya organ tubuh manusia yang dapat tetap hidup meskipun yang lainnya sudah mati adalah otak. Sedangkan pikiran adalah satu-satunya buah kerja dari otak itu sendiri. Jamies Allen menyatakan bawah: “anda yang sekarang merupakan hasil buah pikiran yang lalu. anda besok merupakan buah pikiran sekarang.” Tidak ketinggalan pula David J. Schwartz, Guru Besar Georgia University, USA, mengatakan, “kesuksesan orang tidak diukur dalam meter, kilogram, gelar universitas, ataupun latar belakang keluarga. Namun diukur dengan cara berpikir.”

Berfikir atau pikiran (thingking) adalah kekuatan dasar yang dimiliki oleh manusia yang adapat mempengaruhi alam semesta. Semua yang berkaitan dengan pengetahuan, kesehatan, rasa aman, kepribadian, kebahagiaan bahkan kesuksesan tiada lain bersumber dari hasil pikiran. Dengan berfikir muncul berbagai gagasan spektakuler serta sangat menakjubkan yang turuk membentuk peradaban umat manusia selama ini.

Kesehatan tubuh tanpa didukung dengan kesehatan pikiran hanyak menjadikan manusia makhluk yang tak seimbang. Banyak orang yang menyadari bahwa penderitaan yang mereka alami secara fisik dipicu oleh pikiran mereka yang tidak sehat. Itulah sebabnya, kesehatan tubuh dan kesehatan pikiran adalah intisari dari kehidupan yang bahagian. Namun, hingga saat ini banyak orang yang yang belum memahami dan menguasai kekuatan dari pikiran itu sendiri. Sehingga terkadang karunia yang hanya diberikan kepada manusia dan tentu sangat berharga ini menjadi sia-sia belaka.

Padahal Toni Buzan, penemu konsep Mind Mapping (pemetaan pikiran), menyatakan bahwa otak manusia terdiri dari triliunan sel otak. Setiap sel otak seperti gurita kecil yang begitu kompleks. Ia memiliki sebuah pusat, dengan banyak cabang, dan setiap cabang memiliki banyak koneksi. Tiap-tiap sel otak tersebut jauh lebih kuat dan canggih daripada kebanyakan komputer di planet ini. Setiap sel tersebut berhubungan dengan ratusan ribu sampai puluhan ribu sel yang lain, dan mereka saling bertukar informasi. Ini disebut sebagai jaringan yang sangat mempesona dan setiap orang memilikinya.

Tentunya inilah salah satu buku unik dengan tema yang sungguh menggoda dan penuh dengan misteri. Harold Sherman, pengarang buku istimewa dengan judul “Keajiban Pikiran” ini, menunjukkan bagaimana cara menemukan tujuan hidup. Berikut mengembangkan kepribadian dan meraih keberhasilan serta kesuksesan dengan memperkuat daya-nalar pikiran yang dimiliki oleh seseorang. Dengan keluasan pengalaman dari penulis serta tata tutur bahasanya yang lugas dan mengalir menjadikan buku ini sangat layak dijadikan referensi hidup para pembacanya. Tidak sekedar itu, para pembaca akan mendapatkan pula betapa hidup ini indah dan sarat akan makna.

Mengutip pandangan Profesor Howard Gardner, dari Universitas Harvard, setidaknya ada delapan tipe kecerdasan, yaitu kecerdasan linguistik, matematis-logis, visual-spasial, musikal, naturalis, interpersonal, intrapersonal, dan fisik. Untuk memfungsikan itu semua, walaupun kenyataannya hanya sebagian kecerdasan yang dapat dimaksimalkan, terdapat enam jalur utama menuju otak. Yaitu melalui apa yang dilihat, didengar, dikecap, disentuh, dibaui, dan apa yang dilakukan oleh makluk yang bernama manusia itu sendiri.

Dengan kehadiran buku ini, pembaca diajak bagaimana semestinya belajar memanfaatkan pikiran. Pembaca juga dapat mempelajari bagaimana kekuatan akan persepsi, cara membangun kesadaran, kekuatan meditasi dan do’a, kekuatan intuisi, visualisasi, penyembuhan serta kepribadian. Mengingat cara berfikir yang buruk akan menghasilkan kemjuan negatif, cara berfikir rata-rata tidak akan menghasilkan kemajuan, cara berfikir baik akan menghasilkan beberapa kemajuan serta cara berfikir hebat akan menghasilkan kemajuan spektakuler.

Tentunya, cara berfikir yang terakhir inilah yang diharapkan bersama. Apalagi, menurut penulis buku ini, makin mampu seseorang dapat mengembangkan pikiran dan kerpibadian serta jiwa, makin siap pula seseorang itu memasuki dan menghadapi peristiwa besar dan pengalaman besar yang bakal menghadang perjalanannya di depan. Semoga!

*) Ahmad Makki Hasan
Mahasiswa program Pascasarjana UIN Malang & Tentor di LBB PRIMAGAMA Kota Malang.

Kebahagiaan Diperoleh dari Memberi

Kisah ini bercerita tentang seorang wanita cantik bergaun mahal yang mengeluh kepada psikiaternya bahwa dia merasa seluruh hidupnya hampa tak berarti.

Maka si psikiater memanggil seorang wanita tua penyapu lantai dan berkata kepada si wanita kaya,"Saya akan menyuruh Mary di sini untuk menceritakan kepada anda bagaimana dia menemukan kebahagiaan. Saya ingin anda mendengarnya."

Si wanita tua meletakkan gagang sapunya dan duduk di kursi dan menceritakan kisahnya: "OK, suamiku meninggal akibat malaria dan tiga bulan kemudian anak tunggalku tewas akibat kecelakaan. Aku tidak punya siapa-siapa. aku kehilangan segalanya. Aku tidak bisa tidur, tidak bisa makan, aku tidak pernah tersenyum kepada siapapun, bahkan aku berpikir untuk mengakhiri hidupku. Sampai suatu sore seekor anak kucing mengikutiku pulang. Sejenak aku merasa kasihan melihatnya.

Cuaca dingin di luar, jadi aku memutuskan membiarkan anak kucing itu masuk ke rumah. Aku memberikannya susu dan dia minum sampai habis. Lalu si anak kucing itu bermanja-manja di kakiku dan untuk pertama kalinya aku tersenyum. Sesaat kemudian aku berpikir jikalau membantu seekor anak kucing saja bisa membuat aku tersenyum, maka mungkin melakukan sesuatu bagi orang lain akan membuatku bahagia. Maka di kemudian hari aku membawa beberapa biskuit untuk diberikan kepada tetangga yang terbaring sakit di tempat tidur. Tiap hari aku mencoba melakukan sesuatu yang baik kepada setiap orang. Hal itu membuat aku bahagia tatkala melihat orang lain bahagia. Hari ini, aku tak tahu apa ada orang yang bisa tidur dan makan lebih baik dariku. Aku telah menemukan kebahagiaan dengan memberi."

Ketika si wanita kaya mendengarkan hal itu, menangislah dia. Dia memiliki segala sesuatu yang bisa dibeli dengan uang namun dia kehilangan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.

Jangan Biarkan Bisa Menjadi Tidak Bisa

Mulailah mengerjakan sesuatu. Jangan biarkan pertanyaan memenuhi benak kita sehingga melunturkan kemampuan kita untuk melakukan sesuatu.

Memang, banyak hal yang tidak bisa kita lakukan saat ini. Karena itu tinggalkan saja. Kerjakan sesuatu yang kita bisa, meski hanya menuliskan sebuah titik. Jangan biarkan sesuatu yang tak bisa kita kerjakan malah menyurutkan niat kita untuk mengerjakan sesuatu yang bisa kita kerjakan. Perhatikan saja keberanian kita untuk mengambil tindakan. Sekecil apa pun langkah pertama yang kita tapakkan adalah langkah besar bagi keberanian kita.

Tak perlu disibukkan dengan pertanyaan: mana yang lebih dulu, "Telor" atau "Ayam". Yang perlu kita lakukan adalah melihat apa yang ada dalam genggaman dan menghargainya. Yaitu, dengan mengerjakan sesuatu sebaik-baiknya. Bila telur yang berada dalam genggaman, eramilah hingga ia menetas menjadi seekor anak ayam. Sedangkan, bila ayam yang berada dalam genggaman, peliharalah sampai bisa menghasilkan telur-telur.

Lebih dari sekedar mempertanyakannya namun mengerjakannya.

Sumber: Tidak Diketahui

Selasa, 09 Desember 2008

Narsisme

OLEH: MUHAMMAD SOBARY

Orang Yunani memiliki tokoh metologi, narsisus, yang jatuh cinta kepada dirinya sendiri. Tiap kali memandang dirinya di permukaan air, Narsisus kagum akan ketampanan wajahnya.

Novelis humoris dan tangkas memainkan ironi, Paulo Coelho, dalam kisah pembuka novelnya, The Alchemist, menceritakan betapa banyak peri hutan merasa iri kepada telaga, tempat tiap pagi Narsisus mengagumi dirinya.

“ Enak ya kamu, tiap pagi memandang wajah tampan dan mata jernih itu,” kata peri hutan.

“Apa dia tampan dan matanya jernih?”

Lho,kamu melihatnya tiap pagi bukan?”

“tidak. Aku tak sempat melihatnya sebab tiap kali ia jongkok di tepiku, aku sibuk memandang kejernihan wajahku sendiri yang terpantul di matanya.”

Saya kagum membaca ketangkasan humor novelis ini. Dengan ringkas dan bagus ia hendak mengatakan, seperti para psikologi yang berurusan dengan “abnormalitas” bahwa si telaga, mungkin maksudnya kita sering lebih narsisus daripada narsisus itu sendiri. Sering kita berperilaku tidak sehat, narsisme, tetapi tidak menyadari bahwa kita mengidap gangguan jiwa.

Gejala tidak sehat ini direkam pula dalam Alice Miller, The Drama of the Gifted Child: The search for The True Self (Drama anak-anak Kita: Membedah Sanubari Mencari Jati Diri Sejati) yang menguraikan betapa anak di dunia menjadi korban watak narsisme orang tua meraka sendiri.

Kemudian anak-anak itu berangkat dewasa, secara narsis pula. Dan ketika menajadi orang tua, merekapun memperlakukan anak-anak seperti dulu mereka di perlakukan secara tak sehat.

Cinta orang tua narsistis tadi, pada hakekatnya wujud cinta pada diri mereka sendiri. Orangtua menyayangi anak bukan demi sianak melainkan demi diri sendiri, dan kitapun sering dihadapkan pada sikap tak terduga. Anak yang tampak manis dan lembut ternyata menyimpan potensi “bom” rasa cemas, takut, frustrasi, juga demam secara sosial, dan dengan mudah meledek. Anak bunuh diri tanpa alasan yang masuk akal. Orang dewasa dengan kejam membunuh orangtua, istri, suami, atau anak sendiri juga tanpa alasan masuk akal.

Tentu saja tidak masuk akal, sebab semua alasan terpendam dibawah sadar, disembunyikan rapat dibalik rsa cemas yang disulap menjadi kepatuhan. Mereka patuh bukan karena patuh, tapi karena takut.

Menjadi anak saja sudah sulit. Apalagi menjadi anak yang otoriter. Menjadi rakyat itu sulit, jalan macet, dan harus dan harus mengalah dengan frustrasi tiap kali ada pejabat lewat dengan kawalan polisi.

Kita takut pada orang tua yang otoriter, guru galak, polisi, satpam, tentara, pengawal presiden atau wakil presiden, ajudan menteri yang lebih dari menteri, atasan di kantor yang melebihi kuasa tuahan, dan sikap banyak Bank yang mempekerjakan preman kejam menjadi “debt collecter” berjiwa jin dan hantu.

Mengapa kita sering membikin takut orang lain, dengan, dengan rasa bangga? Mengapa kecemasan orang lain menjadi kebahagiaan kita? mungkin karena kita tak sepenuhnya waras.

Para salebriti intelektual maupun yang sama sekali tidak intelek dan sebetulnya membosankan hati-hatilah terhadap pengagum, atau pecinta panatik. Banyak tokoh dunia dibunuh juga gandi yang mulia dan agung oleh pecinta dan pengagum panatiknya.

Mengapa banyak pecinta dan pengagum fanatic pada tokoh publik? Mungkin karena pada dasarnya banyak orang tak pernah mendapat dan karena itu membutuhkan cinta dan kekaguman. Lalu mereka mengagumi orang lain demi diri mereka sendiri.

Pengagum sobat saya, kiai AAgym, berbalik menjadi dengki, marah, mengutuk, karena sobat ini di anggap cermin diri mereka, tapi cermin itu dibikin retak. Diri mereka yang cemas, merasa kurang, merasa rendah, dan berharap, tiba-tiba dikecewakan. Dulu AAgym pasti tak terlalu sadar bahwa kekaguman yang mejulang kelangit dari begitu banyak wwarga butuh kagum, pada dasarnya juga potensi kebencian. Kiai ini mungkin mengira mereka kagum ada dirinya, padahal orang-oarang itu kagum hanya pada diri mereka sendiri seperti Narsisus dan telaga dan telaga dungu itu.

Cinta mereka tak sama dengan pada Negara, yang menurut Jhon Lenon membuat orang rela “to kill or die for” rela berkorban. Cinta dan kekaguman publik pada tokoh agama, seni, ilmu, filsafat, dan tokoh politik yang bisa degan menang pemilu, disertai “bom” kemaran, jengkel, kecewa, benci, dan niat balas dendam, dari memanggul setinggi langit keniat mengubur dalam-dalam hingga kebencian terpuaskan.

Sekarang para tokoh politik mungkin mulai sadar, betapa tak sehat pemujaan politik di masyarakat. Sang Terpuja, pelan-pelan diancam kebencian, kemurahan, rasa kecewa, frustrasi, dan serangan politik bertubi-tubi. Musuh politik menari-nari di atas kebencian terhadap orang lain.

Ini pun sebenarnya kedunguan yang tak di sadari. Dikiranya dirinya tak mungkin dikenai sikap serupa. Kenapa kita tak mampu mengelola cin tadan kekaguman tetap menjadi cinta dan kekaguman?

Jawabnya: Karena kita terbius popularitas. Kita terbius aroma pujaan, dan lupa membalas dengan kerja keras untuk mewujudkan harapan. Jangan lupa, di dunia politik, pendukung, pecinta, pemuja, tim sukses, intinya mendukung, mencintai, memuji, dan menyukseskan harapan mereka sendiri. Begitu harapan dikecewakan, mereka siap mengasah pedang pembunuh naga.

Pengagum, atau pemuja, juga dungu. Orang kok dipuji. Salah sendiri. Watak fanatis harus diubah. Kita mencintai, atau memuji secara dewasa. Dan kalauorang cukup dewasa, ia tak perlu pujaan. Akal, rasionalitas, dan hati harus seimbang supaya kita bisa meminta dan bisa memberi.

Kalau memberi cinta dan pemujaan ya harus memberi. Kita tak boleh terus-menerus naïf, cengeng dan mentah dalam menyikapi tokoh. Kita tidak boleh dekat dengan Narsisus.

**___:(Dicatat ulang oleh impas untuk kajian devisi: Seni dan Budaya sebagai kebutuhan rohani pekerja seni)____**

Minggu, 30 November 2008

Komunikasi Diri

Komunikasi Diri

Bahkan untuk mendefinisikan siapa diri kita yang sebenarnya saja masih menjadi pertanyaan besar dalam peroses pemanusiaan diri, bahwa jabatan, uang, dan wanita timbul dari gejolak naluri potensi dasar manusia, akan tetapi kepemilikan atasnya bukan diri kita yang sebenarnya. Guru, Dosen, atau siapa saja yang menganggap dirinya sebagai pemuka dan pelaku dalam kehidupan jangan definisikan diri anda adalah seperti apa yang anda tahu sekarang akan tetapi seberapa banyak yang anda ketahui tentang sesuatu yang pernah anda lihat lalu di baca dan fahami kemudian di mengerti.

Pemandangan kampus yang kita nikmati selama ini ternyata belum cukup menggambarkan modernitas pemikiran beserta fungsi-fungsi material yang sebagaimana mestinya di gunakan dengan bijak, memulai untuk jujur dan tulus yang berpihak pada kehidupan adalah satu ujian dalam memproduksi karya-karya ilmiah para cendikia kampus, pujian atasnya mungkin imbalan kecil tetapi bukan racun yang menyuburkan kesombangan atas gelar akademik yang disandang dalam kesementaraan ini. Biarkan darah menjadi saksi atas bukti perjuangan, biarkan cucuran peluh menjadi samudra kebahagian Illahi atas anugrah hidup yang tulus.

Jangan sebutkan sebutir syair Khalil Gibran berikut ini diri anda :

Mata dan wajahnya bercahaya, seolah ia telah

menemukan aku sebagai murid yang penuh pengertian

lalu ia berseru: bagus !

Jika anda menempatkan kepercayaan pada kata-katamu sendiri

anda harus meninggalkan hukum-hukum dan tradisi-tradisi yang menyimpang

Hiduplah seperti burung-burung dalam sebuah tempat kosong dari segala

Kecuali hukum yang sempurna dari langit dan bumi

Percaya adalah suatu yang bagus, tapi menempatkan kepercayaan-kepercayaan

Kedalam pelaksanaan adalah suatu ujian kekuatan

Sebab, betapa banyak orang berbicara bagai gemuruh laut

Tapi hidup mereka dangkal dan mandek bagai rawa-rawa busuk

mereka terlelap dalam keremangan gua-gua raksasa,

Betapa banyak orang teriak keras-keras tapi cita-citanya tidak setinggi langit

mereka mati, mereka sekarat, mereka menjadi bangsa yang menunggu kematianya.